Studi: Pejabat dan Orang Kaya Paling Dibenci

BEIJING, KOMPAS.COM – Kebanyakan “rumor” atau desas-desus yang beredar di Beijing terkait para pejabat pemerintah dan orang-orang kaya, lapor media pemerintah, Rabu (11/6/2014). Laporan itu menggarisbawahi kebencian umum di masyarakat di tengah-tengah kesenjangan pendapatan yang semakin dalam di China.

“Sekitar 64 persen dari sampel rumor dalam penelitian tersebut mencakup kebencian terhadap para pejabat, 58 persen kebencian terhadap orang kaya,” lapor Global Times yang mengutip hasil studi Beijing Academy of Social Sciences and Social Sciences Academic Press. “Studi menemukan bahwa rumor-rumor tersebut tentang isu-isu yang lebih sensitif dan mencakup kisah-kisah yang lebih sensasional sehingga menimbulkan kebencian terhadap para pejabat dan orang kaya menyebar jauh lebih mudah,” katanya.

Para pemimpin baru China di bawah Presiden Xi Jinping telah berusaha untuk mengatasi frustrasi publik terkait korupsi para pejabat yang merajalela dan pelebaran kesenjangan pendapatan dengan menggelorakan kampanye anti-korupsi dan berjanji mereformasi ekonomi secara drastis. Pada saat bersamaan pemerintah juga menindak tegas perbedaan pendapat dan apa yang disebut “desas-desus”.

Sejak mengambil alih Partai Komunis yang berkuasa pada akhir 2012, kepemimpinan baru negara itu telah memimpin penangkapan puluhan aktivis dan memperketat cengkeramannya di internet. Walau menghadapi sensor yang ketat, internet telah memberikan alternatif sumber informasi bagi rakyat China di tengah kuatnya kontrol pemerintah terhadap media domestik.

“Citra buruk dan perilaku pejabat pemerintah selalu menjadi perhatian rakyat, dan tanpa membeberkan informasi resmi yang efisien, masyarakat cenderung percaya pada sumber-sumber sosial,” kata Global Times yang mengutip Profesor Wang Hongwei dari Universitas Renmin University.

Koran itu juga mengutip sebuah survei lain dari legaldaily.com.cn, yang dilaporkan The Mirror, yang menemukan bahwa “lebih dari setengah rumor di internet pada tahun 2012 adalah tentang korupsi para pejabat”.

%d blogger menyukai ini: