Pasar Tertekan, Pengembang Kakap Tiongkok Berlomba Lego Aset Properti

KOMPAS.com – Sejumlah investor properti Hongkong berlomba-lomba menjual aset mereka di Tiongkok daratan. Sementara para pengembang beramai-ramai mengalihkan investasi dan diversifikasi bisnis ke pasar properti internasional, seiring tertekannya pasar properti negara itu.

Akibatnya, menurut catatan Colliers International arus keluar modal dari Tiongkok daratan ke pasar properti internasional terus meroket dari 69 juta dollar AS (Rp 795 miliar) pada 2008 menjadi 16 miliar dollar AS (Rp 184,5 triliun) pada tahun lalu. Sementara untuk tahun ini, Colliers memperkirakan arus modal China yang beredar di pasar properti internasional akan mencapai 32 miliar dollar AS (Rp 369,1 triliun).

Yang paling menonjol adalah aksi orang terkaya di Asia, Li Ka-shing. Ia diketahui telah menjual sejumlah aset di Tiongkok daratan dan Hongkong. Oktober 2013 lalu, Ka-shing melego gedung perkantoran Oriental Financial Center senilai 1,2 miliar dollar AS atau ekuivalen dengan Rp 13,8 triliun. Sebulan sebelumnya, dia juga menjual Metropolitan Plaza di Guangzhou dengan banderol harga 387 juta dollar AS (Rp 4,4 triliun).

Ka-shing mendapat julukan “Superman” karena kemampuannya membuat kesepakatan bisnis dan transaksi aset properti. Dia juga melihat peluang besar para pemilik gedung di Tiongkok daratan akan menjual asetnya dengan harga rendah untuk kemudian dia jual kembali dengan harga tinggi.

“Dia selalu cerdas dan berada di garda depan. Investor lain pasti akan menyusulnya setahun kemudian,” ujar penasihat manajemen EXS Capital, Todd Pallett.

Salah satu di antara pengikut Ka-shing adalah Richard Li. Perusahaannya, Pacific Century Premium Developments Ltd telah menjual proyek Pacific Century Place yang berlokasi di kawasan elite Sanlitun Beijing, dengan harga 928 juta dollar AS (Rp 10,7 triliun). Pacific Century Place mencakup dua menara, kantor dan ruang apartemen, serta pusat perbelanjaan.

Sementara Soho China, penguasa properti perkantoran, melepas asetnya di Shanghai pada Februari lalu dengan nilai total 837 juta dollar AS (Rp 9,6 triliun). Soho China saat ini dikendalikan oleh Zhang Xin yang merupakan salah satu perempuan eksekutif paling populer.

Fenomena aksi obral properti tersebut sebagai dampak melorotnya akselerasi pertumbuhan harga. Di saat negara-negara lain memperlihatkan pertumbuhan sekitar 6 persen hingga 7 persen, Tiongkok justru hanya berada pada kisaran 4 persen sampai 4,5 persen.

Jelas, kondisi ini memaksa para pengembang kakap Tiongkok beralih ke luar negeri. Mereka memilih opsi mengakuisisi beberapa saham perusahaan multinasional. Soho, misalnya, membeli saham pribadi di General Motors dengan ekspektasi pertumbuhan sewa 5 persen, dengan biaya pinjaman hanya 2 persen.

%d blogger menyukai ini: