Pajak Naik, Properti Jepang Masih Menarik

KOMPAS.com – Setelah China jeblok, giliran Jepang yang tampil sebagai salah satu arena investasi properti terbaik di dunia. Tokyo dan Osaka mencatat pertumbuhan tertinggi, nyaris seperti pencapaian pada kurun 1980-an.

Secara umum, Jepang adalah target investasi paling menarik. Tokyo dan Osaka telah merangsek  ke puncak peringkat daya tarik setelah dua dekade terpuruk. Abenomics telah menjadi alasan utama di balik kemajuan properti Jepang sejak pemilihan Perdana Menteri Shinzo Abe pada akhir 2012. Biaya kredit rendah, harga sewa meningkat, dan keamanan kepemilikan adalah tren jangka panjang yang positif.

Pasar properti Jepang, seperti halnya di Korea Selatan, Hongkong dan Malaysia, memungkinkan orang asing untuk memiliki kepemilikan properti dalam jangka panjang. Legalitas inilah yang memicu pertumbuhan terus berlanjut.

Menurut laporan BlackRock, Tokyo memperlihatkan kemajuan menjanjikan yang ditandai kenaikan harga sewa properti komersial. BlackRock juga merekomendasikan investor untuk tak segan menanamkan dana di ibukota negeri matahari terbit ini.

Foresight Real Estate bahkan menilai Tokyo punya prospek lebih baik di antara kota-kota besar dunia lainnya dalam lima tahun ke depan. Meskipun kenaikan pajak konsumsi dan melemahnya Yen, mulai sedikit menuai keraguan investor, tetapi dampaknya belum terjadi.

Pemerintah menaikkan pajak penjualan menjadi 8 persen, dari sebelumnya 5 persen yang mulai berlaku bulan ini setelah tahun fiskal berakhir pada Maret lalu.  Pemerintah Jepang juga berencana menaikkan pajak lagi pada bulan Oktober tahun 2015, menjadi 10 persen.

Namun demikian, untuk saat ini, fundamental terlihat baik. Biaya kredit rendah, sementara pertumbuhan hunian meroket 95 persen dalam empat tahun terakhir. Harga kondominium juga diprediksi akan tumbuh terus di tengah melonjaknya harga tanah di kota-kota besar untuk kali pertama dalam enam tahun.

Ada pun harga rerata sewa properti di kota tersebut beranjak 1,9 persen menjadi 3,87 dollar AS (Rp 4,4 juta) per kaki persegi atau 2.000 dollar AS (Rp 23,2 juta) per bulan. Sementara di kota lainnya justru stabil.

%d blogger menyukai ini: