Presiden Tiongkok Desak Integrasi Pertahanan Udara dan Ruang Angkasa

BEIJING, KOMPAS.COM — Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mendesakkan integrasi lanjutan kemampuan pertahanan udara dan ruang angkasa negara itu. Sejumlah pakar, Selasa (15/4/2014), menggambarkan hal itu sebagai tanggapan terhadap militerisasi ruang angkasa oleh sejumlah negara saingan, termasuk Amerika Serikat.

Tiongkok menyatakan, program ruang angkasanya yang ambisius itu ialah untuk tujuan damai. Namun, klaim tersebut pertama kali dipertanyakan tahun 2007 ketika militer negara itu menggunakan sebuah rudal yang berbasis darat untuk menghancurkan salah satu satelitnya sendiri di orbit.

Menurut beberapa situs spesialis, Tiongkok pada Mei tahun lalu juga menguji sebuah rudal balistik anti-satelit yang baru.

Xi mengatakan kepada angkatan udara negara itu untuk “mempercepat integrasi ruang angkasa dan mempertajam kemampuan ofensif dan defensif mereka”. Demikian kata kantor berita resmi Xinhua, Senin malam, dalam sebuah laporan yang tidak merinci bagaimana hal ini harus dilakukan. Harian milik negara Tiongkok, China Daily, Selasa, mengutip Wang Ya’nan, wakil pemimpin redaksi majalah Aerospace Knowledge di Beijing, mengatakan langkah itu sebagai tanggapan terhadap “kebutuhan zaman”.

“Amerika Serikat telah memberikan perhatian dan sumber daya yang cukup untuk mengintegrasikan kemampuan di udara dan ruang angkasa, dan sejumlah negara lain juga telah bergerak secara progresif ke arah militerisasi ruang angkasa,” kata Wang.

“Walaupun Tiongkok telah menyatakan bahwa pihaknya fokus pada penggunaan ruang angkasa untuk tujuan damai, kita harus memastikan bahwa kita memiliki kemampuan untuk memenuhi operasi lain di ruang angkasa.”

Artikel China Daily itu menyatakan, “ide menggabungkan kemampuan udara dan ruang angkasa bukanlah hal yang baru bagi angkatan udara Tiongkok”.

Namun, program luar angkasa Tiongkok sebelumnya lebih terfokus pada perdagangan dan ilmu pengetahuan ketimbang pertahanan.

Beijing menganggap program itu sebagai simbol peningkatan peran global dan kemajuan teknologinya, serta sebagai keberhasilan Partai Komunis dalam membalikkan nasib bangsa yang dulu miskin itu.

%d blogger menyukai ini: