Tinggalkan komentar

Penting nya Bahasa Mandarin di Era Pasar Bebas

Dicari: translator bahasa mandarin, guru bahasa mandarin.

Diutamakan: yang dapat berbahasa mandarin.

Mampu berbahasa mandarin menjadi nilai lebih.

 

Cukilan kalimat tersebut akhir-akhir ini banyak sekali ‘mejeng’ di media cetak sebagai salah satu prasyarat atau nilai tambah bagi mereka yang hendak mencari kerja. Booming bahasa mandarin nampaknya bukan hanya menjadi sebuah tren pasca Soeharto yang membebaskan kekangan kursus bahasa mandarin di penjuru tanah air. Booming bahasa mandarin juga bukan semata-mata terjadi akibat kencangnya keinginan warga Tionghoa untuk mempertahankan budaya mainland. Bahasa mandarin kini telah menjadi sebuah kebutuhan penting bagi siapapun yang ingin bertahan dari ketatnya persaingan kompetensi di era pasar bebas.

Sekalipun tergolong sebagai salah satu bahasa yang paling sulit dipelajari di dunia (baca: Pentingnya Bahasa Mandarin), bahasa mandarin tetap menjadi pilihan pertama bagi mereka yang belajar bahasa asing (chinese as foreign language). Toefl mandarin berstandar internasional atau HSK semakin banyak diminati komunitas internasional. Penggunaan bahasa mandarin menempati urutan ke-2 dalam penggunaan bahasa internasional setelah bahasa Inggris. Bukan hanya di Indonesia atau Asia saja, bahasa Mandarin juga makin banyak diminati para pelajar dan mahasiswa di benua Afrika, Eropa dan Amerika.

Anda tentu sudah dapat menebak dengan mudah mengapa fenomena ini terjadi. Kekuatan diplomasi dan ekonomi China dasawarsa terakhir mendorong setiap negara untuk memasuki pangsa pasar China dan bahkan menaklukan ambisi China sebagai negara superpower. Australia sangat terbantu karena sang perdana menteri, Kevin Rudd, fasih ber cas cis cus dalam bahasa bermulti intonasi itu. Dalam skala mikro, perusahaan jelas-jelas terbantu dengan karyawan yang fasih berbahasa mandarin. Juga makin banyak perusahaan yang mensyaratkan penguasaan mandarin atau bahkan khusus mendatangkan ahli bahasa.

Tim Clissold dalam bukunya yang berjudul Mr.China secara gamblang mengatakan bahwa bahasa Mandarin merupakan kunci utama memperoleh kepercayaan dari para pelaku ekonomi di China. Dahlan Iskan (kini Dirut PLN) dalam bukunya yang berjudul Belajar dari Tiongkok mengakui hal serupa. Dahlan yang banyak terlibat kerjasama bisnis dengan Tiongkok sadar betul pentingnya penguasaan bahasa yang satu ini. Meski sulit, sudah berumur, dan bukan etnis Tionghoa, Dahlan belajar bahasa Mandarin dengan tekun di Nanchang, China. Walau tak dapat menulis, Dahlan pun fasih membaca, bercakap plus “menulis” Han Zi(huruf Tiongkok) dengan menggunakan komputer berprogram Mandarin.

Bagi para pelaku bisnis, terutama mereka yang terlibat secara langsung dengan China atau overseas-nya, penguasaan bahasa mandarin menjadi satu kebutuhan utama. Penguasaan bahasa akan sangat mempermudah komunikasi dengan para pengusaha dan pejabat sekaligus memperluas guanxi atau koneksi, sebuah unsur vital dalam berbisnis di China. Selain memberikan petunjuk penting tentang nilai-nilai budaya masyarakat Tiongkok, penguasaan Mandarin juga dibutuhkan sebagai senjata bersaing dalam menjalankan transaksi bisnis.

Mandarin juga telah menjadi mata pelajaran bahasa asing utama di berbagai negara, menggeser kedudukan bahasa-bahasa asing lainnya seperti Jepang, Prancis, Jerman, Spanyol. Orang tua murid dan pendidik sadar bahwa penguasaan bahasa mandarin sejak masa kanak-kanak akan membantu meningkatkan standar kompetensi mereka di kemudian hari, masa di mana China berpotensi menyamai atau bahkan mengungguli AS sebagai superpower. Tak terkecuali di AS sendiri. Dewasa ini, sekolah-sekolah di AS berlomba-lomba mendatangkan instruktur bahasa Mandarin. Pertumbuhan pelajaran mandarin ini pun tergolong pesat.

Di Massillon – Ohio, Jackson High School memulai program bahasa mandarin sejak tahun 2007 dengan hanya 20 murid dan kini mencapai 80 murid. Survei pemerintah AS memperkirakan ada 1.600 sekolah negeri dan swasta yang mengajarkan bahasa mandarin, naik sekitar 300 sekolah dari dekade sebelumnya. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat dengan pesat. Di seluruh AS ada sekitar 27.500 SMP dan SMA yang menawarkan minimal satu pelajaran bahasa asing. Survei dari Center for Applied Linguistics, sebuah kelompok peneliti di Washington, memaparkan bahwa mereka yang memilih bahasa mandarin naik dari 1% menjadi 4% dalam kurun waktu 1997-2008 (New York Times, 21 Januari 2010).

Jumlah pendaftar Advanced Placement test in Chinese yang baru diperkenalkan tahun 2007 di AS juga sudah mengalahkan tes untuk bahasa Jerman, Spanyol, dan Prancis. Pelajaran bahasa Jepang yang sempatbooming di AS juga sudah menurun. Sekolah yang menawarkan bahasa Prancis, Jerman, dan Rusia. kebanyakan sudah berhenti beroperasi. Satu dekade lalu, program bahasa mandarin lebih banyak ditemui di pesisir Barat dan Timur AS tapi kini sudah merambah ke jantung AS termasuk Ohio, Illionois, Texas, Georgia, Colorado, dan Utah. Survei Asia Society bahkan menyimpulkan program bahasa mandarin untuk play-groupdi AS naik sekitar 200% sejak tahun 2004. (New York Times, 1 Juni 2009).

Ketertarikan mempelajari bahasa mandarin juga ditunjukkan dengan program bersama antara College Board(AS) dan Hanban (China) yang berlangsung sejak tahun 2006. Dalam program ini, ratusan pelajar dan pendidik AS mengunjungi sekolah-sekolah di China dengan subsidi dari Hanban. Para pelajar ini memulai kunjungannya dengan belajar bahasa mandarin. Sejak 2006, Hanban dan College Board juga mengirim lebih dari 325 guru sukarelawan bahasa mandarin asal China untuk bekerja di sekolah-sekolah Amerika. Setiap guru mendapat subsidi upah sebesar 13.000 dollar AS. (New York Times, 21 Januari 2010).

Pesatnya mandarin pun tak luput dari kritik. Beberapa menyebutkan pesatnya bahasa mandarin adalah salah satu misi soft diplomacy China. Upaya penyederhanaan karakter mandarin dan penggunaan bin yin(huruf latin karakter mandarin) dipandang sebagai kebijakan disengaja untuk mempopulerkan mandarin di ranah internasional. Selain tudingan merusak tatanan budaya yang kental melekat pada huruf Hantradisional, penyederhanaan yang mulai dipopulerkan pemerintah RRC sejak 1950 ini juga menuai kritik karena sulit bersinergi dengan software. Sebagai contoh, kalimat “kehilangan muka” diterjemahkan komputer sebagai kehilangan 麵 (“mie”) daripada kehilangan 面 (“muka”)! (NYT, 2/5/2009).

Tapi berbagai tudingan miring ini tidak menyurutkan kesadaran komunitas internasional untuk mempelajari bahasa mandarin sejak usia dini. Maraknya penggunaan bahasa mandarin sedikit demi sedikit mampu memecahkan dominasi bahasa Inggris dalam bisnis internasional. Ini tentu menjadi tantangan bagi generasi muda dan para pelaku bisnis Indonesia yang saat ini harus menghadapi derasnya arus barang-barang impor asal China setelah berlakunya Asean Free Trade Agreement. Penguasaan bahasa mandarin bukan hanya aksesoris identitas tapi kini sudah menjadi kebutuhan bagi siapapun yang ingin unggul di tengah ketatnya kompetisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: